TAQWA YANG SEBENAR-BENARNYA

taqwa yang sebenarnya
"Ittaqulloha Haqqo tuqotih Wala tamuutunna illa wa antum muslimun" (BERTAQWALAH kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan muslim/berserah diri).

Kalimat penggalan ayat tersebut selalu disampaikan oleh khatib disetiap khutbah jum'at sebagai pesan kepada seluruh para jamaah. Secara global/umum pengertian taqwa adalah: "intisarul awamil wajtinabu Nawahi" (mengerjakan semua perintahNya dan menjauhi semua LaranganNya) tapi apa pengertian dan penjabaran tentang taqwa secara tafsili...??

Takwa secara etimologis berarti waspada diri dan takut. Takwa kepada Allah secara terminologis adalah melaksanakan perintah Allah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi larangan Allah sebagaimana yang dilarang oleh Allah.

Sementara sahabat nabi memahami arti “haqqa tuqatih” sebagaimana sabda nabi, yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawai dari Abdullah Ibn Mas’ud: “Ittaqullah haqqa tuqatihi” ialah hendaknya Dia ditaati tidak dimaksiati, disyukuri tidak diingkari dan diingat tidak dilupakan”. (HR. Al-Hakim).

Penggalan ayat “haqqa tuqatih” juga dapat bermakna “bertakwa kepada Allah sesuai dengan kemampuan maksimal yang dimilikinya, ini didasarkan pada Surat At-Taqhabun;
فَـاتَّقُوا اللهَ مَـا اسْتَطَعْتُمْ
"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu". (QS. At-Taghabun: 16).

Yang dimaksud dengan “Walatamutunna wa antum muslimuun” antara lain adalah “Janganlah seseorang itu meninggal melainkan ia berbaik sangka kepada Allah”, sesuai hadits Nabi: yang artinya: “Janganlah seorang diantara kamu mati melainkan ia berbaik sangka terhadap Allah” (HR. Muslim)

Taqwa itu letaknya bukan pada pakaian, bukan pada panjangnya jubah dan lebarnya sorban, taqwa letaknya bukan terletak pada titel ustadz atau kyai. Taqwa itu letaknya pada hati dan pengamalan yang sungguh-sungguh. Siapapun anda, apapun profesinya, apakah dia ustadz, karyawan pabrik, pedagang dan lain sebagainya apabila dia benar-benar menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi semua larangan Allah dengan sungguh-sungguh maka dialah muttaqin, Apabila dia berdoa maka mustajabud da'awat (doanya mustajab).

Rekan AWMU, semoga kalian selalu istiqomah dalam mengamalkan ajaran amaliyah wali makhtum dengan selalu berkhudznudzhon kepada Allah, walau terkadang setiap pribadi seseorang dalam tahap pengabulan doanya berbeda-beda, percaya dan yakinlah semua akan terwujud bila kita sabar dan tekun tanpa memprotes kehendak Allah yang terbaik untuk anda, baik rezeki dan hajat.

Sunan Kalijaga kalau membaca Bismillah dan mencangkul tanah bisa muncul emas. Coba kita yang membaca Bismllah..??

Tapi kenapa Bismillah kita enggak punya pengaruh apa-apa...??
Jelas karena Bismillah beliau digandengkan dengan amal shaleh yang istiqamah. Sementara kita...??, Kadang malah digandeng maksiat dihari yang sama kita berdoa.

Bukan soal isi doanya, akan tetapi gandengan doanya. Gandengan doa dengan amal shaleh. Sedekah dulu baru doa, Tahajud dulu baru berdoa. Dzikir di malam hari dulu baru berdoa, makin banyak gandengan doa berupa amal shaleh dan kebaikan, maka doa itu semakin mustajab, dan lebih diperhitungkan oleh Allah Swt.

Menggunakan kain kafan dan tikar pandan bekas membungkus mayat ketika di kuburkan ialah salah satu hal untuk mengingat mati dan menjadikan hati nurani kita menjadi lebih tawadhu dan sabar, dengan itu jiwa akan lebih terasah untuk selalu meningkatkan ketaqwaan untuk menggapai keridhoan illahi. Aamiin yaa robbal aalamiin.

Semoga Allah menjadikan seluruh para pengamal AWMU salah satu hamba Allah yang mendapatkan syafaatnya kelak di yaumul hisab akhir nanti. Aamiin.

Salam Hangat

Share artikel

Artikel terkait

Selanjutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »
Komentar
0 Komentar