MERAIH KEBAHAGIAAN DUNIA DAN AKHIRAT

Setiap insan manusia pasti menginginkan kehidupannya penuh dengan kebahagiaan. Entah kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kelak. Akan tetapi banyak diantara mereka yang tidak memahami apakah yang dimaksud bahagia itu. Karena tidak pahamnya dengan hal tersebut, ada diantara mereka yang mengumpulkan harta hingga tujuh keturunan.

Ada lagi yang meniti karirnya untuk menjadi tokoh dan orang terkenal walau harus menyuap. Dan ada pula yang mencari wanita-wanita cantik untuk memuaskan nafsunya. Akan tetapi mereka tidak akan mendapat kebahagiaan kecuali dengan Islam. Yaitu dengan menjadikan kampung akhirat tujuannya dan menjadikan dunia sebagai ladang beramal untuk akhirat.

Menurut Ibnu Hazm, seorang ulama Andalusia, berkata : "Bahwa manusia seluruhnya sedang menuju ke satu arah yaitu mengusir kegelisahan. Gelisah bodoh maka belajar, gelisah miskin dia bekerja, gelisah tidak berperan dalam masyarakat maka dia mencari jabatan, status sosial dan lain-lain. Namun seluruh upaya tersebut tidak membawa kebahagiaan, baik ilmu, harta, maupun jabatan. Hanya satu jalan yang dapat membawa kebahagiaan seseorang, yaitu apabila dia menjadikan Islam sebagai "Way of Life", dan menjadikan seluruh sepak terjangnya di jalan Allah.

Jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat adalah jalan terjal yang dipenuhi dengan cobaan dan duri. Sangat disayangkan, karena ketidaksabaran dan mengikuti hawa nafsu membuat kebanyakan manusia enggan menempuh jalan kebahagiaan yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala.

Jalan-jalan kebahagiaan yang telah dibawa oleh para nabi dan rasul, telah ditinggalkan oleh kebanyakan orang. Mereka lebih senang menempuh kebahagiaan dengan mengikuti para artis, bintang film atau yang lainnya. Mungkin karena ilmu mereka sampai disitu. Tidak paham siapa yang harus mereka tiru.

Harus ditempuh syaratnya, Semua orang menginginkan kebahagiaan, tetapi banyak diantara mereka tidak ingin menempuh jalannya. Sungguh ini adalah sesuatu yang mustahil. Dan diantara syarat mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat adalah :

1). Syarat Pertama : Bertaqwa kepada Allah Ta’ala
Al-Imam An-Nawawi mendefenisikan taqwa dengan, ”Mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.” (Tahrir Alfazh At-Tanbih hal. 322).

Oleh karena itu, orang yang tak menjaga dirinya dari perbuatan dosa, dan mengabaikan perintah Allah, maka dia bukanlah termasuk orang yang bertaqwa. Padahal, ketaqwaan itu merupakan kunci kebahagiaannya di dunia dan diakhirat. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberi rezki dari arah yang dia tidak sangka-sangka”. (QS. Ath-Thalaq : 2-3).

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, ”Maknanya, barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkanNya dan meninggalkan segala yang dilarangNya, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar serta rezki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak pernah terlintas di benaknya.”(Lihat Tafsir Ibnu Katsir (4/400)).

Bahkan Allah Subhana Wa Ta’ala menjanjikan bagi orang-orang yang bertaqwa, akan dilimpahkan berkah dari langit dan bumi sebagaimana firman-Nya,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (QS. Al-A’raf : 96).

Karenanya, setiap orang yang menginginkan kebahagiaan dan keluasan rezki serta kemakmuran hidup, maka hendaknya ia mentaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Janganlah mencari kebahagian itu dengan cara yang haram bahkan sampai bersusah payah ke dukun, sebab dukun itu sendiri bersusah payah mencari kebahagiaannya dengan cara menipu manusia.

2). Syarat Kedua : Bertaubat dan ber-istighfar.
Kebanyakan manusia, menyangka bahwa istighfar dan taubat cukup dengan lisan saja. Sehingga istighfar-nya tidak memberikan pengaruh didalam hati dan anggota badannya. Akhirnya, ia tak jujur dalam taubatnya, dan terus larut dalam dosa.

Para ulama telah menjelaskan hakekat taubat dan istighfar. Diantaranya Al-Imam Ar-Roghib Al-Ashfahani menerangkan, ”Dalam istilah syara, taubat adalah meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesali dosa yang telah dilakukannya, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan memperbaiki amalan (yang sholeh) dengan cara mengulanginya. Jika keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna”. (Al-Mufrodat fii Ghoribil Qur’an (hal. 83)).

Istighfar dan taubat merupakan sebab-sebab kebahagiaan seseorang dan sebab keluarnya karunia Allah Ta’ala dari langit dan bumi. Sebagaimana yang telah diucapkan Nabi Nuh alaihi salam kepada kaumnya di dalam Al-Qur’an.

“Maka aku katakan kepada mereka, mohonlah ampun kepada Tuhanmu, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai". (QS.Nuh :10-12).

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, : ”Maknanya, jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepadanya dan kalian senantiasa mentaatinya, niscaya Dia akan membanyakkan rizki kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakkan harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang didalamnya terdapat berbagai macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai diantara kebun-kebun itu (untuk kalian)” (Tafsir Ibnu Katsir 4/449).

Begitu besar dan banyaknya buah dari istighfar dan taubat berupa kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Bahkan, barangsiapa yang ingin diberi kebahagiaan yang terus menerus, maka hendaklah selalu beristighfar dan bertaubat.

Maka sudah seharusnya seorang muslim senantiasa mengamalkan amalan ini. Sebab dengan melaksanakannya, Allah akan menjamin kebahagiaan dan menganugerahkan kenikmatan yang baik sampai pada waktu yang telah ditentukan.

3). Syarat Ketiga : Berinfaq di Jalan Allah
Infaq atau sedekah merupakan amal kebaikan yang memiliki kedudukan tinggi didalam islam. Selain sedekah mendekatkan diri seorang hamba kepada Allah Subhana Wa Ta’ala, ia juga makin mempererat hubungan antara sesama manusia. Sebab, sedekah dapat melapangkan kesempitan, menghentikan dari meminta-minta, membantu orang yang lapar menjadi kenyang, memberikan kegembiraan kepada anak kecil, menyenangkan hati orang dewasa dan menciptakan kebahagiaan ditengah-tengah kaum muslimin.

Begitu banyaknya keutamaan sedekah sehingga ia bisa menjadi perisai dari api neraka. Memang wajar jika sedekah menjadi salah satu jalan menuju kebahagiaan. Banyak dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menunjukkan bahwa orang yang berinfaq di jalan Allah akan diberi ganti oleh Allah di dunia, dan ia akan meraih pahala yang besar di akhirat. Allah Azza Wa Jalla berfirman,

“Dan apa saja yang kamu infaq-kan, maka Allah akan menggantinya. Dan Dialah Pemberi rizki sebaik-baiknya.” (QS. Saba : 39).

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Betapapun sedikitnya apa yang kamu infakkan dari apa yang diperintahkan Allah kepadamu dan apa yang diperbolehkan-Nya, niscaya Dia akan menggantinya untukmu di dunia dan di akhirat engkau akan diberi pahala dan ganjaran”.(Tafsir Ibnu Katsir (3/595)).

Allah berjanji akan menggantikan apa saja yang di infakkan di jalanNya. Sedangkan janji Allah adalah benar, tak ada keraguan di dalamnya. Karenanya, sudah seharusnya kaum muslimin berlomba untuk meraihnya, dan jangan takut dan ragu terhadap janji Allah saat setan menakut-nakutimu dengan kefakiran.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah memberi kabar gembira kepada kaum muslimin agar jangan takut bersedekah.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sedekah itu tidak mengurangi harta, Allah tidak menambahkan kepada seorang hamba karena memberi maaf, kecuali kemuliaan, tidaklah seorang merendah hati karena Allah, kecuali derajatnya akan diangkat oleh Allah”. (HR. muslim).

Inilah beberapa cara untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Jika kita berpegang teguh dengan amalan-amalan ini, niscaya kita akan bahagia di dunia dan akhirat. Sebab kebaikan adalah dengan berpegang teguh terhadap sesuatu yang di syari’atkan Allah, dan keburukan segala-galanya adalah dengan berpaling dariNya.

Salam Hangat

Share artikel

Artikel terkait

Selanjutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »
Komentar
0 Komentar