KISAH SEORANG ANAK YANG BERTANYA TENTANG SHALAT

Ada seorang anak yang bertanya : "Ayah apakah sholat itu wajib".
Lalu aku menatap anakKu sambil bertanya apakah mereka sedang mengujiKu.

Lalu aku jawab pada mereka sambil tertawa kecil, "Tidak..", mereka heran dan nampak sekali alis mata mereka berkerut.

"Ayah bukankah sholat itu wajib bagi seluruh kaum muslimin". Benarlah dugaanku, mereka mengujiku, hehe.

Kukatakan pada mereka: "Wahai anakku sholat itu tidak wajib, tapi keperluan jika engkau adalah seorang hamba, tetapi jika engkau seorang muslim sholat itu adalah wajib yang telah ditentukan waktunya".
Sang anak bertambah heran-Nya, dia mengatakan: "Apa beda diantara keduanya".

"Wahai anakku dengarkanlah, seorang muslim sholat adalah tuntunan agama-Nya dan berkewajiban seorang muslim untuk sholat sebagaimana yang telah diajarkan islam kepada kita, maka engkau mengerjakan sholat.

Engkau takut akan hukuman karena orang yang tidak mengerjakan sholat itu adalah dosa dan seorang pendosa itu di akherat kelak tempatnya adalah Neraka tiada pembalasan yang lebih pedih dan hina daripada masuk Neraka, kadang engkau mengerjakannya karena engkau ingin dapat PAHALA, dengan banyaknya pahala engkau akan masuk kedalam surga, tiada balasan di akherat kelak yang lebih baik dan terpuji kecuali masuk ke dalam SURGA.

Seorang hamba sholat merupakan cara dia untuk menjumpai Tuhan-Nya, dimana dia akan mengadu segala Aib dan kelemahan-Nya, tanpa Tuhan-Nya hamba itu tiadalah memiliki arti apa-apa, dia hanyalah seonggok tulang yang dilapisi daging, dia sadar hamba itu lemah, bodoh, fakir dan miskin. Dengan kebodohannya, kefakirannya, juga kelemahannya sebab itulah ia butuh Tuhan. Hanya dengan sholat cara yang paling dekat dengan Tuhannya.

Buah dari pendekatan kepada Tuhannya itu tidak lagi pahala yang ia rasakan, tetapi taat kepada perintah Tuhan-Nya, tiada melalaikannya, tiada lagi keterpaksaannya akan menjalankan perintah, ia sadar apapun yang ia miliki hari ini tidak lain hanya kepunyaan Tuhannya, hartanya, jabatannya, bahkan apa yang ada pada dirinya, seperti akal, tenaganya, keahliannya, maupun kepintaraannya, dia sangat sadar kalau kelak jabatannya akan hilang, dia sadar hartanya akan diwarisi orang, akalnya tak berfungsi lagi, tenaganya akan lenyap.

Kapan.??, saat ia telah menjadi mayat, sebelum masa itu datang buru-buru ia menyempatkan diri untuk taat dan tunduk pada Tuhan-Nya, ketika ia punya jabatan dilaksanakan seperti apa yang diperintahkan, juga pada hartanya, akalnya dll.

Ia gunakan secara layak hanya mencari keridhoan Tuhannya, Mumpung ketika segala amanah ini masih belum diambil oleh yang punya.

Wahai anakku, ketika engkau dapati sholat adalah kewajiban, maka menyegerakanlah dirimu untuk menyempurnakan tentang tata cara dan hukumnya, tentang adab dan tempatnya, begitu juga hendaknya pada kewajiban-kewajiban lainnya.

Jika engkau mendapati sholat adalah keperluan maka itulah hikmah dari sholatmu maka menyegerakankanlah engkau akan memperbaiki akhlakmu, tiada lagi bangga diri, tiada lagi ketamakan, segeralah menuju pada akhlak yang mulia.

Wahai anakku, tiadalah engkau mengaku rumahmu bersih sementara engkau membuang sampah rumahMu sekedarnya saja, walau seberapa hebatnya pengetahuan dan pengakuanmu tentang kebersihan itu, tentulah tidak sesempurna ketika engkau teliti dan rapi dalam membersihkan rumahmu, tak perlu engkau mengatakan pada semua orang rumahmu bersih, orang lainpun akan mengetahuinya melalui apa yang telah engkau kerjakan.

Begitulah ikhtibarnya wahai anakku, tiadalah engkau dapati hal yang kedua ketika engkau mengabaikan yang pertama, sempurnakan yang pertama maka yang kedua akan menyertaimu dengan baik.

Kebaikan yang palsu adalah perangai yang dibuat-buat, sedikit diuji maka ia akan kembali pada titik awalnya.

Wahai anakku, bukannya engkau diwajibkan berbuat baik tetapi engkau telah merasakan hikmahnya berbuat baik, juga bukannya engkau menjauhi perbuatan buruk tetapi engkau merasakan hikmahnya perbuatan buruk, jika engkau dapati kebaikkanmu dibalas orang dengan kejahatan tiadalah menggusarkan hatimu, tiadalah engkau membalas keburukan dengan keburukan, karena hatimu telah menemukan hikmah dari kebaikan itu, bukan pada orang lain tetapi pada diri sendiri, setiap kebaikan akan bisa dirasakan hikmahnya apabila hati kita telah menjadi baik.

Ketika engkau dapati hikmah didalam setiap kelakuanMu tentulah engkau tidak ingin menjadi orang yang merugi, karena setiap kejelekan tentulah akan menyengsarakan diri sendiri, tiadalah engkau dapati kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup, meski dengan jabatan yang tinggi ataupun harta yang melimpah.

Sementara orang yang mengejar jabatan tinggipun, mengumpulkan harta yang banyak tujuan akhirnya tentulah kebahagian dan ketentraman, sementara, tiadalah ketentraman dan kebahagiaan itu sempurna engkau rasakan kecuali engkau mengikuti segala kebaikan, cinta kasih pada sesama, taat akan perintah Tuhan-Mu, tunduk pada ajaran Nabimu.

Wahai anakku, dengan begitu tentu engkau akan membuang segala keburukan seperti engkau membuang kulit kacang, sangat menyesal apabila engkau memungutnya kembali karena akan menyusahkanMu sementara dia tiada memiliki manfaat apa-apa melainkan kemudharatan saja.

Sempurnakan RUKUN ISLAM sebagai kewajibanMu, dan sempurnakan juga RUKUN IMAN menjadi landasannya.

Kitalah sebagai manusia yang membutuhkan Allah sebagai tempat memohon segala Doa dan Harapan kita.

Di saat kesulitan melanda, di saat hati telah merasa putus asa, yang diharap hanyalah pertolongan Allah. Hamba hanyalah seorang yang fakir. Sedangkan Allah adalah Al-Ghoniy, Yang Maha Kaya, yang tidak butuh pada segala sesuatu. Bahkan Allah-lah tempat bergantung seluruh makhluk.

Sebagaimana dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Hai manusia, kamulah yang sangat butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Dalam ayat yang mulia ini, Allah SWT menerangkan bahwa Dia itu Maha Kaya, tidak butuh sama sekali pada selain Dia. Bahkan seluruh makhluklah yang sangat butuh padaNya. Seluruh makhluk-lah yang merendahkan diri di hadapan-Nya.

Semoga bermanfaat kisah ini sebagai renungan kita. Aamiin yaa robbal aalamiin.

ALLOHUMM SHOLLI ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA ALAA AALIHII WASHOHBIHII WA UMMATIHII WASALLIM.

Share artikel

Artikel terkait

Selanjutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »
Komentar
0 Komentar