MAKAM SYEKH QURO PULOBATA KARAWANG

pintu makam syekh quro pulobata karawang
Syekh Quro adalah Syekh Qurotul Ain atau Syeh Hasanudin atau Syekh Mursahadatillah. Menurut naskah Purwaka Caruban Nagari, Syekh Quro adalah seorang ulama. Dia adalah putra ulama besar Perguruan Islam dari negeri Campa yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih ada garis keturunan dengan Syekh Jamaluddin Akbar al-Husaini serta Syekh Jalaluddin ulama besar Mekah. Jika di tarik dan di lihat dari silsilah keturunan, Syech Hasanudin atau Syekh Quro masih ada garis keturunan dari Sayidina Husein Bin Saiyidina Ali r.a. menantu dari Nabi Muhammad SAW. dari keturunan Dyah Kirana ( Ibunya Syech Hasanudin atau Syekh Quro ). Selain itu Syech Hasanudin atau Syekh Quro juga masih suadara seketurunan dengan Syech Nurjati Cirebon dari generasi ke-4 Amir Abdullah Khanudin.
gerbang makam syekh quro pulobata karawang
gerbang makam syekh quro pulobata karawang
makam syekh quro pulobata karawang
Sebelum berlabuh di Pelabuhan Karawang, Syekh Quro datang di Pelabuhan Muara Jati, daerah Cirebon pada tahun 1338 Saka atau tahun 1416 Masehi. Syech Nurjati mendarat di Cirebon pada tahun 1342 Saka atau tahun 1420 Masehi atau 4 tahun setelah pendaratan Syech Hasanudin atau Syekh Quro di Cirebon. Kedatangan Syech Hasanudin atau Syekh Quro di Cirebon, disambut baik oleh Syahbandar atau penguasa Pelabuhan Muara Jati Cirebon yang bernama Ki Gedeng Tapa.

Maksud dan tujuan kedatangan Syech Hasanudin ke Cirebon adalah untuk menyebarkan ajaran Agama Islam kepada Rakyat Cirebon. Syech Hasanudin ketika di Cirebon, namanya disebut dengan sebutan Syech Mursahadatillah oleh Ki Gedeng Tapa dan para santrinya atau rakyat Cirebon.

Setelah sekian lama di Cirebon, akhirnya misi Syech Hasanudin untuk menyebarkan ajaran Agama Islam di Pelabuhan Cirebon rupanya diketahui oleh Raja Pajajaran yang bernama Prabu Angga Larang. Namun disayangkan misi Syech Hasanudin ini oleh Prabu Angga Larang di tentang dan dilarang, dan kemudian Prabu Angga Larang mengutus utusannya untuk menghentikan misi penyebaran Agama Islam yang dibawakan oleh Syech Hasanudin dan mengusir Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah dari Tanah Cirebon.

Ketika utusan Prabu Angga Larang sampai di Pelabuhan Cirebon, maka utusan itu langsung memerintahkan kepada Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah untuk segera menghentikan dakwah dan penyebaran Agama Islam di Pelabuhan Cirebon. Agar tidak terjadi pertumpahan darah, maka oleh Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah atau Syekh Quro perintah yang dibawakan oleh utusan dari Raja Pajajaran Prabu Angga Larang itu disetujuinya, dan Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah seraya berkata kepada utusan Raja Pajajaran Prabu Angga Larang : “Meskipun dakwah dan penyebaran ajaran Agama Islam ini dilarang, kelak dari keturunan raja Pajajaran akan ada yang menjadi Waliyullah meneruskan perjuangan penyebaran ajaran Agama Islam”. Peristiwa ini sontak sangat disayangkan oleh Ki Gedeng Tapa dan para santri atau rakyat Cirebon, karena Ki Gedeng Tapa sangat ingin berguru kepada Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah atau Syekh Quro untuk memperdalam ajaran Agama Islam.

Ketika itu juga Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah pamit kepada Ki Gedeng Tapa Muara Jati Cirebon untuk pergi ke Malaka, maka Ki Gedeng Tapa Muara Jati Cirebon menitipkan anak kandung Putri kesayangannya yang bernama Nyi Subang Larang, untuk ikut berlayar bersama Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah ke Malaka.

Syekh Hasanudin atau Syekh Mursahadatillah berada di Pelabuhan Bunut Kertayasa ( Kampung Bunut Kelurahan Karawang Kulon Kecamatan Karawang Barat Kabupaten Karawang sekarang ini ). Di Karawang dikenal sebagai Syekh Quro karena dia adalah seorang yang hafal Al-Quran (hafidz) dan sekaligus qori yang bersuara merdu. Sumber lain mengatakan bahwa Syekh Quro datang di Jawa tepatnya di Karawang pada 1418 Masehi dengan menumpang armada Laksamana Cheng Ho yang diutus Kaisar Tiongkok Cheng Tu atau Yung Lo (raja ketiga jaman Dinasti Ming). Tujuan utama perjalanan Cheng Ho ke Jawa dalam rangka menjalin persahabatan dengan raja-raja tetangga Tiongkok di seberang lautan. Armada tersebut membawa rombongan prajurit 27.800 orang yang salah satunya terdapat seorang ulama yang hendak menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Mengingat Cheng Ho seorang muslim, permintaan Syekh Quro beserta pengiringnya menumpang kapalnya dikabulkan. Syekh Quro beserta pengiringnya turun di pelabuhan Pura Dalem Karawang, sedangkan armada Tiongkok melanjutkan perjalanan dan berlabuh di Pelabuhan Muara Jati Cirebon.

Di Kabupaten Karawang pada tahun 1340 Saka (1418 M) mendirikan pesantren dan sekaligus masjid di Pelabuhan Bunut Kertayasa, Karawang Kulon Karawang Barat sekarang, diberi nama Pondok Quro yang artinya tempat untuk belajar Al Quran. Syekh Quro adalah penganut Mahzhab Hanafi, yang datang bersama para santrinya antara lain : Syekh Abdul Rohman, Syekh Maulana Madzkur, dan Nyai Subang Larang. Syekh Quro kemudian menikah dengan Ratna Sondari putrinya dari Ki Gedeng Karawang dan lahir seorang putra yang bernama Syekh Akhmad yang menjadi penghulu pertama di Karawang. Syekh Quro juga memiliki salah satu santri yang sangat berjasa dalam menyebarkan ajaran Agama Islam di Karawang yaitu bernama Syech Abdiulah Dargom alias Syech Darugem bin Jabir Modafah alias Syech Maghribi keturunan dari Sayyidina Usman bin Affan r. a. Yang kelak disebut dengan nama Syekh Bentong alias Tan Go. Syekh Bentong memiliki seorang istri yang bernama Siu Te Yo dan dia mempunyai seorang putri yang diberi nama Siu Ban Ci.

Ketika usia anak Syech Quro dan Ratna Sondari sudah beranjak dewasa, akhirnya Syech Quro berwasiat kepada santri – santri yang sudah cukup ilmu pengetahuan tentang ajaran Agama Islam seperti : Syekh Abdul Rohman dan Syekh Maulana Madzkur di tugaskan untuk menyebarkan ajaran Agama Islam ke bagian selatan Karawang, tepatnya ke Kecamatan Telukjambe, Ciampel, Pangkalan, dan Tegalwaru sekarang. Sedangkan anaknya Syech Quro dengan Ratna Sondari yang bernama Syech Ahmad, ditugaskan oleh sang ayah meneruskan perjuangan menyebarkan ajaran Agama Islam di Pesantren Quro Karawang atau Masjid Agung Karawang sekarang.

Sedangkan sisa santrinya yang lain yakni Syech Bentong ikut bersama Syech Quro dan Ratna Sondari istrinya pergi ke bagian Utara Karawang tepatnya ke Pulo Bata Desa Pulokalapa Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang sekarang untuk menyebarkan ajaran Agama Islam dan bermunajat kepada Allah swt. Di Pulo Bata Syech Quro dan Syech Bentong membuat sumur yang bernama sumur Awisan, kini sumur tersebut masih dipergunakan sampai sekarang.

Waktu terus bergulir usia Syech Quro sudah sangat uzur, akhirnya Syech Quro Karawang meninggal dunia dan dimakamkan di Pulo Bata Desa Pulokalapa Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang. Sebelum meninggal dunia Syech Quro berwasiat kepada santri – santrinya berupa : “Ingsun Titip Masjid Langgar Lan Fakir Miskin Anak Yatim Dhuafa”.

Maka penerus perjuangan penyebaran ajaran Agama Islam di Pulo Bata, diteruskan oleh Syech Bentong sampai akhir hayatnya Syech Bentong.

Makam Syech Quro Karawang dan Makam Syech Bentong ditemukan oleh Raden Somaredja alias Ayah Djiin alias Pangeran Sambri dan Syech Tolha pada tahun 1859 Masehi atau pada abad ke – 19. Raden Somaredja alias Ayah Djiin alias Pangeran Sambri dan Syech Tolha, di tugaskan oleh Kesultanan Cirebon, untuk mencari makam Maha guru leluhur Cirebon yang bernama Syech Quro.

Bukti adanya makam Syech Quro Karawang di Pulo Bata Desa Pulokalapa Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang, di perkuat lagi oleh Sunan Kanoman Cirebon yaitu Pangeran Haji Raja Adipati Jalaludin saat berkunjung ke tempat itu dan surat, penjelasan sekaligus pernyataan dari Putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII Nomor : P-062/KB/PMPJA/XII/11/1992 pada tanggal 05 Nopember 1992 yang di tunjukan kepada Kepala Desa Pulokalapa Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang.

MAKAM SYEKH ASNAWI CARINGIN BANTEN

syekh asnawi caringin labuhan banten
Banten terkenal dengan sebutan kota santri, karena dari daerah inilah banyak melahirkan kader-kader ulama besar, dan para syekh. Bisa dilihat dari segi sejarah dan tempat pemakaman para syekh yang tersohor ilmunya, hampir diseluruh pelosok daerah banten dari kota hingga kepedesaan terdapat makam para syekh / ulama yang menyebarkan ajaran islam, untuk menghormati dan mengenang perjuangannya makam para syekh biasanya dibuatkan bangunan khusus,. Makam para syekh oleh masyarakat biasanya dikeramatkan dan dianggap suci, bahkan makamnya selalu ramai dikunjungi oleh peziarah untuk mendoakan arwahnya.

Sebut saja Syekh Asnawi Caringin yang kelahiran banten, nama beliau terkenal seantero raya, beliau kelahiran kota Pandeglang tepatnya Kp. Caringin. Syekh KH.Asnawi lahir di Kampung caringin sekitar tahun 1850 M, Beliau dilahirkan dari pasangan seorang alim yang dengan ayah beliau bernama Abdurrahman dan ibunya bernama  Ratu Sabi’ah dan merupakan keturunan ke 17 dari Sultan Ageng Mataram atau Raden Fattah. Sejak umur 9 tahun Ayahnya telah mengirim Kh.Asnawi ke Mekkah untuk memperdalam Agama Islam. Di mekkah beliau belajar dengan Ulama kelahiran Banten yang telah termasyhur namanya bernama Syech Nawawi Al Bantani.Kecerdasan yang di miliki beliau dengam mudah mampu menyerap berbagai dsiplin ilmu yang telah di berikan gurunya. Setelah dirasa cukup lama menimba ilmu dari gurunya maka Syech Nawawi Tanara Banten menyuruh muridnya Kh.Asnawi untuk pulang ketanah air untuk mensyiarkan agama Alloh.
gapura makam syekh asnawi
Sekembalinya dari Mekkah Kh.Asnawi mulai melakukan dakwah ke berbagai daerah , karena ketinggian ilmu yang dimiliki nama Kh.Asnawi mulai ramai dikenal orang dan menjadi sosok ulama yang menjadi panutan masyarakat Banten. Situasi Tanah air yang masih di kuasai Penjajah Belanda dan rusak nya moral masyarakat pada waktu membuat Kh.Asnawi sering mendapat Ancaman dari pihak pihak yang merasa kebebasannya terusik.  

Banten yang terkenal dengan Jawara-jawaranya yang memiliki ilmu Kanuragan  dan dahulu terkenal sangat sadis dapat di taklukkan berkat kegigihan dan perjuangan Kh.Asnawi . Beliau juga terkenal sebagai Ulama dan Jawara yang sakti yang sangat di segani  oleh kaum Penjajah Belanda .Kh.Asnawi dalam melakukan dakwahnya juga mengobarkan semangat Nasionalisme anti Penjajah kepada masyarakat hingga akhirnya Kh.Asnawi di tahan di Tanah Abang di asingkan  ke Cianjur  oleh Belanda selama kurang lebih satu tahun dengan tuduhan melakukan pemberontakan kepada pemerintah Hindia Belanda , Apa yang dilakukan Kh.Asnawi   mendapat dukungan penuh dari rakyat dan dan para ulama  lainnya, seperti para bangsawan dan para jawara. Semenjak runtuhnya kesultanan Banten, terjadi sejumlah pemberontakan yang sebagian besar dipimpin oleh tokoh-tokoh agama. Seperti, pemberontakan di Pandeglang tahun 1811 yang dipimpin oleh Mas Jakaria, peristiwa Cikande Udik tahun 1845, pemberontakan Wakhia tahun 1850, peristiwa Usup tahun 1851, peristiwa Pungut tahun 1862, kasus Kolelet tahun 1866, kasus Jayakusuma tahun 1868 dan yang paling terkenal adalah Geger Cilegon tahun 1888 yang dipimpin oleh KH. Wasid.
ziarah makam syekh asnawi caringin banten
Selama di pengasingan Kh.Asnawi tetap melakukan Dakwah mengajarkan Alquran dan Tarekat kepada masyarakat  sekitar dan  setelah dirasa Aman Kh.Asnawi kembali ke kampungnya di Caringin untuk melanjutkan perjuangan mensyiarkan Islam dengan mendirikan Madrasah Masyarikul Anwar dan Masjid Salapiah Caringin sekitar tahun 1884 Mesjid Caringin ditandai oleh denah empat persegi panjang, pada keempat sisinya terdapat serambi. Arsitektur Masjid dipengaruhi oleh unsur arsitektur lokal, terlihat dari bentuk atapnya dan ditopang oleh arsitektur asing terlihat pada bentuk jendela serta pintu dalam dengan ukuran relatif besar juga pilar-pilar yang mengelilingi Masjid. Menurut cerita bahwa Kayu masjid tersebut berasal dari sebuah pohon Kalimantan  yang di bawa oleh Kh.Asnawi ke Caringin dahulu pohon tersebut tidak bisa di tebang kalaupun bisa di tebang beberapa saat pohon tersebut muncul kembali hingga akhirnya Kh.Asnawi berdo’a memohon kepada Alloh agar diberi kekuatan dan pohon tersebut dapat di tebang serta kayunya dibawa Kh.Asnawi ke Caringin untuk membangun Masjid.

Tahun 1937 Kh.Asnawi berpulang kerahmtulloh dan meninggalkan 23 anak dari lima Istri ( Hj.Ageng Tuti halimah, HJ sarban, Hj Syarifah, Nyai Salfah dan Nyai Nafi’ah ) dan di maqomkan di Masjid Salfiah Caringin , hingga kini Masjid Salafiah  Caringin dan maqom beliau tak pernah sepi dari para peziarah baik dari sekitar Banten maupun dari berbagai daerah di tanah air banyak pengalaman menarik dari peziarah yang melakukan i’tikaf di masjid tersebut seperti yang diungkap oleh salah seorang jamaah sewaktu melakukan i’tikaf terlihat pancaran cahaya memenuhi ruangan Masjid yang berusia hampir 200 tahun tersebut.

MAKAM SYEKH SULTAN MAULANA HASANUDIN BANTEN

Sultan Maulana Hasanuddin banten
Masjid Agung Banten didirikan pertama kali pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin pada tahun 1566, atau tanggal 5 Zulhijah 966 H. Masjid Agung ini terletak di sebelah barat alun-alun Banten, di atas lahan seluas 0,13 hektar. Pembangunan masjid kemudian dilanjutkan pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf.

Bangunan induk masjid ini berdenah segi empat dengan atap bertingkat bersusun 5 atau dikenal dengan istilah atap tumpang, pada zaman dahulu digunakan sebagai tempat mengumandangkan adzan dan sebagai menara pandang ke lepas pantai. Selain itu terdapat pula bangunan tambahan yang terletak di selatan masjid yaitu Tiyamah (Paviliun) dan pada zaman dahulu berfungsi sebagai sebagai tempat bermusyawarah dan berdiskusi mengenai keagamaan. Ribuan peziarah dari berbagai daerah sering datang mengunjungi masjid ini, karena terdapat komplek makam para Sultan Banten dan keluarganya, seperti Makam Sultan Maulana Hasanuddin, Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Abdul Mufachir Muhammad Aliyudin, dan lain-lain. Para peziarah yang datang berdoa dan membaca tahlil yang dipandu juru kunci dari kerabat kesultanan. Usai bermunajat, beberapa peziarah ada yang memasuki ruang makam untuk melihat pusara sultan, di antaranya Sultan Maulana Hasanuddin, Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan An-Nasr Abdul Kahar, dan kerabat sultan lainnya.
masjid agung banten lama
Kesultanan Banten banyak meninggalkan jejak sejarah yang kuat di Provinsi Banten. Berbagai situs peninggalan kerajaan Banten masih dapat dijumpai di beberapa titik di kawasan Banten. Seperti terdapat di kawasan Banten Lama, Serang, makam raja-raja Banten masih ada dan ramai dikunjungi masyarakat. Ada tiga lokasi pemakaman raja-raja Banten yang terletak di Kasunyatan, Desa Banten, dan Kenari. Makam-makam tersebut kerap digunakan peziarah dari berbagai tempat sebagai termpat berdoa kepada Tuhan, untuk memohon keselamatan bagi diri peziarah. Pemakaman di kawasan Kesunyatan sendiri merupakan sebuah kompleks pekuburan keluarga raja yang berisi makam Sultan Maulana Yusuf, cucu dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati, pendiri Kesultanan Banten. Makam Sultan Maulana Yusuf inilah salah satu lokasi yang disinggahi Ratu Atut menjelang gelaran Pilkada. Di dalam kompleks makam, selain makam sang raja, terdapat pula makam dari ajudan-ajudan raja dan keturunan-keturunannya.
MAKAM SYEKH SULTAN MAULANA HASANUDIN BANTEN

MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA CIREBON

Masjid Agung Sang Cipta Rasa adalah masjid agung di kota Cirebon. Masjid tua bersejarah yang dibangun oleh para wali di masa Sunan Gunung Jati memerintah sebagai sultan pertama di Kesultanan Cirebon. Lokasi masjid ini persis di depan komplek Keraton Kasepuhan Cirebon, bersebelahan dengan Alun Alun Keraton Kasepuhan. Baik Masjid maupun Alun Alun-nya masih merupakan wilayah teritorial Keraton Kasepuhan. Ada begitu banyak fakta menarik tentang masjid tua satu ini, berikut saya petikkan 10 diantaranya.
1. Masjid Pakungwati. Pada awalnya masjid Sang Cipta Rasa Cirebon disebut Masjid Pakungwati karena berada di dalam komplek Keraton Pakungwati (kini Keraton Kasepuhan). Pakungwati diambil dari nama Nyi Mas Pakungwati puteri tunggal Pangeran Cakrabuana (Raden Walang Sungsang) bin Raden Pamanah Rasa (Prabu Siliwangi / Sri Baduga Maharaja / Jaya Dewata). Nyi Mas Pakungwati adalah pewaris tunggal tahta Keraton Caruban Larang, oleh ayahandanya dinikahkan dengan sepupunya sendiri yang tak lain adalah Sunan Gunung Jati yang kemudian naik tahta sebagai Sultan Pertama Kesultanan Cirebon. Beberapa Sumber sejarah juga menyebut Nyi Mas Pakungwati sebagai penggagas pembangunan masjid ini yang kemudian diwujudkan oleh suaminya.

2. Dibangun oleh Para Wali. Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan salah satu masjid di pulau Jawa yang dibangun oleh para wali. Di dalam masjid ini di lokasi mihrabnya terdapat tiga buah batu tegel lantai khusus yang dulunya dipasang oleh masing masing Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Tiga buah tegel tersebut masing masing menyimbolkan Iman, Islam dan Ikhsan, simbolisasi yang sama dengan tiga susun atap-nya.

3. Dirancang Arsitek Majapahit. Adalah Raden Sepat yang di utus Raden Fatah Sultan Demak untuk turut membantu pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Raden Sepat adalah seorang mantan Panglima Pasukan Majapahit yang memimpin pasukannya menyerbu Demak pada saat Demak baru berdiri sebagai Kerajaan Islam pertama di Tanah Jawa. Penyerbuan yang berahir dengan kekalahan. Raden Sepat tak pernah kembali ke Majapahit bersama sisa pasukannya beliau mengikrarkan diri masuk Islam dan bergabung dengan kesultanan Demak.

4. Masjid Sembilan pintu. Bangunan utama (asli) Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki Sembilan Pintu menyimbolkan Sembilan Wali (Wali Songo) yang turut berkontribusi aktif dalam proses pembangunannya. Pintu utama nya berada di sisi timur sejajar dengan mihrab, namun pintu utama ini nyaris tak pernah dibuka kecuali pada saat sholat Jum’at, sholat hari raya dan peringatan hari hari besar Islam. Delapan pintu lainnya ditempatkan di sisi kanan dan kiri.  Delapan pintu tersebut berukuran sangat kecil dibandingkan ukuran normal sebuah pintu, memaksa orang dewasa untuk menunduk saat akan masuk ke dalam masjid, meyimbolkan penghormatan dan merendahkan diri dan hati manakala memasuki masjid.

5. Dua belas sokoguru. Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki sokoguru tidak hanya empat tapi dua belas. Semua tiang tersebut terbuat dari kayu jati dengan diameter sekitar 60cm dan tinggi mencapai 14 meter. Mengingat usianya yang sudah sangat tua, seluruh sokoguru di dalam masjid ini sudah ditopang dengan rangkaian besi baja untuk mengurangi beban dari masing masing pilar tersebut, hanya saja kehadiran besi besi baja tersebut sedikit mengurangi estetika.
 6. Zamzam nya Cirebon. Di beranda samping kanan (utara) masjid, terdapat sumur zam-zam atau Banyu Cis Sang Cipta Rasa yang ramai dikunjungi orang, terutama pada bulan Ramadhan. Selain diyakini berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit, sumur yang terdiri dari dua kolam ini juga dapat digunakan untuk menguji kejujuran seseorang.
mimbar masjid agung sang cipta rasa
7. Dua Maksurah dan dua Mimbar. Layaknya sebuah masjid kerajaan, di masjid Agung Sang Cipta Rasa ini juga disediakan tempat sholat khusus bagi keluarga kerajaan atau Maksurah berupa area yang dipagar dengan pagar kayu berukir. Ada dua Maksurah di dalam masjid ini. satu maksurah di shaf paling depan sebelah kanan mihrab dan mimbar diperuntukkan bagi Sultan dan Keluarga keraton Kasepuhan. Serta satu Maksurah di shaf paling belakang disamping kiri pintu utama diperuntukkan bagi Sultan dan keluarga keraton Kanoman. Selain dua maksurah, ada dua mimbar di dalam masjid ini yang bentuk dan ukurannya sama persis. Mimbar yang kini dipakai merupakan mimbar pengganti, disebelah kanan mimbar ini terdapat maksurah dan disebelah kanan maksurah mimbar lamanya ditempatkan.
8. Dibangun sebagai pasangan Masjid Agung Demak. Konon, Masjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun sebagai pasangan dari Masjid agung Demak. Pada saat pembangunan Masjid Agung Demak, Sunan Gunung Jati meminta izin untuk membangun pasangannya di Cirebon. Bila Masjid Agung Demak dibangun dalam watak arsitektur Maskulin, maka masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dibangun dalam watak Arsitektur Feminim.
Adzan Pitu masjid agung sang cipta rasa cirebon
9. Adzan Pitu, yaitu tujuh muazin adzan secara bersamaan Hanya ada di masjid ini tujuh orang muazin mengumandangkan azan secara bersamaan dan dikenal sebagai adzan pitu. Konon, dahulunya masjid ini memiliki memolo atau kemuncak atap, dan pada zaman dahulunya menjelang sholat subuh masjid ini diganggu oleh Aji Menjangan Wulung yang datang menebarkan petaka, beberapa muadzin yang mencoba mengumandangkan adzan tewas dihajar olehnya. Untuk mengusir Aji Menjangan Wulung, Sunan gunung jati memerintahkan tujuh orang muadzin mengumandangkan adzan secara bersamaan untuk mengusir Aji Menjangan Wulung, kubah tersebut pindah ke Masjid Agung Banten yang sampai sekarang masih memiliki dua kubah. Hingga kini adzan pitu tetap dilaksanakan di masjid ini sebagai adzan menjelang sholat Jum’at oleh tujuh muadzin sekaligus dalam pakaian serba putih.

10. Tak tersentuh bom. Berdasarkan kisah tutur dari orang orang tua, dimasa penjajahan berulang kali pasukan Belanda dengan sengaja menarget masjid ini dengan bom, namun tak pernah berhasil, bom bom tersebut justru menghantam obyek yang lain. Di bulan Februari 2010 lalu, Masjid ini kembali menjadi target usaha pengeboman oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Ust. Rahmad salah satu pengurus masjid menemukan bungkusan bom rakitan tersebut di dalam masjid sehari setelah puncak perayaan maulid Nabi, dan syukur Alhamdulilah bom rakitan tersebut tidak meledak meski ada indikasi bahwa pemicunya sudah dinyalakan.

MASJID MERAH PANJUNAN CIREBON

masjid merah panjunan cirebon
Beberapa daerah di Indonesia memiliki masjid yang bersejarah dan punya keunikan.  Di Cirebon, terdapat Masjid Merah Panjunan yang sudah berdiri dari abad ke-14. Bangunannya terbuat dari batu bata merah, yang mana tidak terlihat seperti masjid. Masjid ini merupakan sebuah masjid berumur sangat tua yang didirikan pada tahun 1480 oleh Syarif Abdurrahman atau Pangeran Panjunan. Ia adalah seorang keturunan Arab yang memimpin sekelompok imigran dari Baghdad, dan kemudian menjadi murid Sunan Gunung Jati. Masjid Merah Panjunan terletak di sebuah sudut jalan di Kampung Panjunan, kampung dimana terdapat banyak pengrajin tembikar atau jun.

Masjid Panjunan semula bernama mushala Al-Athya namun karena pagarnya yang terbuat dari bata merah menjadikan masjid ini lebih terkenal dengan sebutan Masjid Merah Panjunan. Awalnya masjid ini merupakan tajug atau Mushola sederhana, karena lingkungan tersebut adalah tempat bertemunya pedagang dari berbagai suku bangsa, Pangeran Panjunan berinisiatif membangun Mushola tersebut menjadi masjid dengan perpaduan budaya dan agama sejak sebelum Islam, yaitu Hindu - Budha. Masjid Merah Panjunan ini telah dimasukkan sebagai benda cagar budaya.
mihrab masjid merah panjunan cirebon
Bangunan lama mushala itu berukuran 40 meter persegi saja, kemudian dibangun menjadi berukuran 150 meter persegi karena menjadi masjid. Meskipun pendiri Masjid Merah Panjunan adalah seorang keturunan Arab, dan Kampung Panjunan adalah merupakan daerah permukiman warga keturunan Arab, namun pengaruh budaya Arab terlihat sangat sedikit pada arsitektur bangunan Masjid Merah Panjunan ini. Barangkali ini adalah sebuah pendekatan kultural yang digunakan dalam penyebaran Agama Islam pada masa itu.

Arsitektur Masjid Panjunan merupakan perpaduan budaya Hindu, Cina, dan Islam. Sekilas masjid ini tidak seperti masjid pada umumnya karena memang bentuk bangunannya menyerupai kuil hindu, adanya mihrab yang membuat bangunan Masjid Merah Panjunan ini menjadi terlihat seperti sebuah masjid, serta adanya beberapa tulisan berhuruf Arab pada dinding. Beberapa keramik buatan Cina yang menempel pada dinding konon merupakan bagian dari hadiah ketika Sunan Gunung Jati menikah dengan Tan Hong Tien Nio.
areal masjid merah panjunan cirebon
Masjid Merah Panjunan beralamat di Jl Kolektoran (perempatan dengan Jl Kenduran) Kampung Panjunan, Desa Panjunan, Kecamatan Lemah Wungkuk. Dari tampak luar, jangan heran kalau tampilan masjid ini berbeda 180 derajat dengan masjid-masjid yang biasa Anda lihat.
Jika masjid-masjid pada umumnya memiliki kubah dan menara, maka tidak bagi Masjid Merah Panjunan. Masjid ini justru beratapkan limas berwarna hitam yang tanpa menara. Bagian depannya pun berupa gapura seperti gapura candi. Kemudian, seluruh sudut masjidnya berwarna merah karena bahan bangunannya yakni batu bata merah. Tak ayal, Masjid Merah Panjunan memang merupakan perpaduan budaya Hindu, Tiongkok, dan Islam. Gapura candi dan batu bata merah adalah pengaruh dari Hindu. Untuk batu bata merah, biasanya digunakan untuk membangun candi.

Memasuki bagian dalam masjidnya, Anda bakal dibuat lebih kaget lagi. Lihatlah, ada banyak keramik yang terpampang di dinding masjidnya. Warna dan corak dari keramiknya pun beragam. Diyakini keramik-keramik itu merupakan pemberian saudagar-saudagar Tiongkok kepada Sunan Gunung Jati. Bahkan kabarnya, keramik-keramiknya merupakan hadiah untuk pernikahan Sunan Gunung Jati dan Tan Hong Tien Nio putri Sang Kaisar dari Dinasti Ming.

Di dalam masjidnya juga terdapat 17 tiang penyangga yang melambangkan 17 rakaat dalam salat. Empat dari 17 tiang penyangga itu ada empat sokoguru yang merupakan penyangga utama sebagai simbol empat imam dalam hukum atau syariat Islam. Mereka adalah Imam Maliki, Imam Hambali, Imam Syafi'i, dan Imam Hanafi.

Suasana di dalam masjid memang terkesan sempit. Meski begitu, suasana di dalamnya sungguh tenang dan khidmat. Bentuk atau arsitektur masjidnya yang unik, memberikan nuansa yang berbeda yang tidak akan Anda dapatkan di masjid-masjid lainnya.

Saat bulan Ramadan, Masjid Merah Panjunan pun biasanya ramai dikunjungi wisatawan. Pihak pengurus masjid pun menyediakan menu berbuka puasa dan gahwa alias kopi jahe khas Arab yang nikmat.

Sejak zaman dulu, Masjid Merah Panjunan menjadi tempat beribadah dan tempat Sunan Gunung Jati bersama para ulama untuk menyusun strategi menyebarkan ajaran Islam. Kini, masjidnya sudah merupakan cagar budaya yang dilindungi karena sarat sejarah.

Ruangan utama Masjid Merah Panjunan langit-langitnya ditopang oleh lebih dari lima pasang tiang kayu. Umpak pada tiang penyangga juga memperlihatkan pengaruh kebudayaan lama. Sementara keramik yang menempel pada dinding memperlihatkan pengaruh budaya Cina dan Eropa.

Pada bagian mihrab dihiasi dengan keramik yang indah. Lengkung pada mihrab pun yang berbentuk paduraksa juga memperlihatkan pengaruh budaya lama. Di Masjid Merah Panjunan ini tidak ada mimbar, karenanya hanya digunakan untuk sholat sehari-hari, tidak untuk ibadah sholat Jumat, atau sholat berjamaah di Hari Raya Islam.

Tampak muka Masjid Merah Panjunan yang terbuat dari susunan batu bata merah yang pintu gapuranya memperlihatkan pengaruh Hindu dari zaman Majapahit yang banyak bertebaran di daerah Cirebon. Gapura yang susunan batanya berwarna merah memberikan nama tengah kepada masjid ini. Adalah Panembahan Ratu yang merupakan cicit Sunan Gunung Jati yang membangun tembok keliling bata merah setinggi 1,5 m dan ketebalan 40 cm pada tahun 1949.

KERAMAT MASJID AL-ALAM

masjid al-alam marunda
Ada ratusan tempat ibadah umat Islam di Jakarta merupakan bangunan tua, bahkan umurnya lebih dari empat abad. Salah satu yang paling tua adalah Masjid Al-Alam, di Kampung Marunda Pulo RW 07 Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Bagi para pengamal AWMU yang ingin cepat mensebatinkan amaliyahnya biasanya mereka akan berkunjung ke masjid ini untuk melakukan wiridan dan shalat didalamnya. Masjid yang berdiri sejak tahun 1600 itu, mempunyai nilai historis tersendiri. Lokasi Masjid yang berada persis di pesisir pantai Marunda merupakan salah satu 12 obyek tujuan wisata pesisir di Jakarta Utara. 
ruangan masjid al-alam marunda
Konon Masjid Al Alam (Al-Auliya) Marunda, dibangun oleh Sunan Gunung Jati hanya dalam tempo semalam, dalam salah satu riwayat Sunan Gunung Jati dengan karomahnya membuat 9 musholla dalam waktu semalam dan tersebar di pesisir pantai diantaranya :

 JAKARTA
1. Masjid Alam Marunda (Rumah si pitung) Jakarta Utara
2. Masjid Alam Cilincing (Al-Alam 2) Jakarta Utara
3. Masjid Alam Lontar Koja Jakarta Utara
4. Masjid Alam (masih dilacak)
5. Masjid Alam (masih dilacak)

BEKASI
6. Masjid Alam Gaga muara gembong
7. Masjid Alam Pondok muara Blacan muara gembong
8. Masjid Alam Pondok tengah babelan
9. Masjid Alam (masih dilacak)

Kedatangan para peziarah dari berbagai daerah, tidak lepas dari keistimewaan sejarah Masjid Al Alam yang konon dibangun oleh salah satu Walisongo. "Masjid ini dibangun Walisongo dengan tempo semalam, saat menempuh perjalanan dari Banten ke Jawa," kata M. Sambo bin Ishak, wakil ketua Masjid Al Alam. "Karena itu, nama asli masjid ini Al Auliya, masjid yang dibangun para wali Allah," lanjutnya.
makam KH. Jami'in bin Abdullah
Makam KH. Jami'in bin Abdullah, Pengurus masjid pertama kali
Sementara di tempat terpisah, tokoh Betawi, Alwi Shahab, mengatakan bahwa pendiri masjid Al Alam adalah Fatahilah dan pasukannya pada tahun 1527 M, setelah mengalahkan Portugis di Sunda Kelapa. Ada keyakinan di masyarakat Marunda, bahwa Fatahillah membangun Masjid Al-Alam hanya dalam sehari. Meski berbeda pendapat, baik Sambo dan Alwi Shahab mengatakan hal yang sama bahwa Masjid Al Alam dibangun hanya dalam tempo semalam, meski pijakan alasan keduanya berbeda.

Berangkat dari tempo pembangunan itu, tidak mengherankan bila masjid yang ukurannya mirip mushala itu menjadi istimewa bagi masyarakat Marunda khususnya, dan umat Islam umumnya. Terlebih bila mengingat bahwa Masjid Al Alam juga sarat nilai sejarah perlawanan terhadap penjajah.
Seratus tahun kemudian (1628-1629), lanjut Alwi Shahab, ketika ribuan prajurit Mataram pimpinan Bahurekso menyerang markas VOC (kini gedung museum sejarah Jakarta) para prajurit Islam ini lebih dulu singgah di Marunda untuk mengatur siasat perjuangan.

Penuturan Alwi Shahab tersebut, senada dengan penjelasan Sambo tentang lubang kecil berbentuk setengah oval yang terdapat di bagian kiri masjid Al Alam. Menurutnya, lubang tersebut digunakan sebagai pengintaian terhadap bala tentara musuh.

"Tidak hanya tentara Demak, tapi juga Si Pitung, Si Ronda, Si Jampang, Si Mirah dan lainnya pernah bersembunyi di sini dari kejaran Belanda. Mereka bisa selamat karena menurut cerita, bila bersembunyi di Masjid ini mereka tidak akan kelihatan." ujar Alwi. Banyak kisah heroik muncul dari masjid ini, di antaranya Si Pitung.

Sementara itu, melihat arsitektur Masjid Al Alam akan mengingatkan pada model Masjid Demak, namun berskala lebih mini ukurannya 10×10 meter. Atapnya yang berbentuk joglo ditopang oleh 4 pilar bulat seperti kaki bidak catur.

Mihrab yang pas dengan ukuran badan menjorok ke dalam tembok, berada di sebelah kiri mimbar. Uniknya masjid ini berplafon setinggi dua meter dari lantai dalam.

Kemudian, di bagian kiri Masjid, dulunya merupakan kolam yang digunakan untuk mencuci kaki sebelum masuk masjid. Ini mengingatkan pada arsitektur Masjid Agung Banten Lama. Bedanya, kolam di Masjid Agung Banten Lama terletak di bagian depan halaman masjid.

Beberapa bagian masjid lainnya masih asli. Di antaranya adalah tembok di ruang utama masjid yang memiliki ketebalan sekitar 27 cm dan hiasan jendela yang terdapat di ruang pengimaman. "Itu juga asli, dalamnya terbuat dari batu giok," lanjutnya.

Selain itu, Sambo juga menunjukkan sebuah tongkat yang terukir melingkar seperti ular. Menurutnya, tongkat itu cukup istimewa dan hanya dikeluarkan setiap hari Jum'at saat khutbah.

"Tongkat ini datangnya misterius. Tiba-tiba datang ke sini lewat air," katanya.

Saat ini, masjid yang terletak di tepi pantai itu tidak pernah sepi. Selalu diziarahi, terutama setiap malam Jum'at Kliwon dengan kegiatan rutin berupa istighotsah. Begitu juga sumur tua yang usianya ratusan tahun tersebut berada di samping masjid sampai saat ini air masih tetap mengalir dan tidak pernah kering.
sumur masjid al-alam
Sumur masjid Al-Alam marunda
Dengan keistimewaan Masjid Al Alam, baik nilai-nilai sejarah perlawanan yang heroik dan karomah para pendirinya, dalam perkembangannya juga membawa manfaat bagi masyarakat sekitar Marunda, baik yang berhubungan dengan nilai-nilai Islami maupun rizki.

Dengan ramainya para peziarah, masyarakat bisa mengambil keuntungan dengan menjual makanan di sekitar Masjid Al Alam. Apalagi saat bulan suci Ramadan.Demikianlah keistimewaan Masjid Al Alam atau Al-Auliyah Marunda. Meski dibangun hanya dalam tempo semalam, tapi manfaatnya terasa hingga ratusan tahun.

"Bangunannya mengandung budaya Jawa, Arab, dan Eropa," ungkapnya. Gaya Jawa terlihat pada atap joglo yang bertingkat dua, gaya Arab terlihat pada ukiran kaligrafi, dan gaya Eropa terlihat pada empat tiang yang menopang atap masjid.

Saat Ramadhan tiba, banyak jemaah, dari Jakarta maupun dari daerah, sejak awal hingga akhir Ramadhan. Menjelang 10 hari Idul Fitri, lebih banyak orang yang datang untuk beri'tikaf.
rumah si pitung
Rumah Si Pitung Marunda
"Setelah melakukan i'tikaf biasanya mereka berziarah ke rumah Si Pitung sambil menikmati suasana pantai publik Marunda," ungkap Aman.

MAKAM SUNAN AMPEL SURABAYA

gapura Makam Sunan Ampel
Salah satu wisata religi di Jawa Timur yang terkenal adalah Wisata Religi Makam Sunan Ampel yang berada di kawasan kota Surabaya. Makam Sunan Ampel ini berada di daerah belakang kawasan masjid Ampel tepatnya di Jalan KH Mas Mansyur Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, Surabaya, Jawa Timur. Untuk menuju ke kawasan wisata religi Sunan Ampel bisa dengan mudah dijangkau baik menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum, hal ini dikarenakan kawasan wisata religi makam Sunan Ampel ini berada ditengah-tengah kota Surabaya. Para pengamal awmu pasti akan datang ketempat ini.
Masjid yang terkenal masjid terbesar kedua di kota Surabaya ini selalu ramai oleh peziarah. Sehingga kawasan wisata religi Sunan Ampel ini setiap harinya banyak didatangi oleh peziarah, dari berbagai daerah. Hal ini terutama pada hari jumat legi dan atau pada saat menjelang dan selama bulan puasa, maka peziarah akan bertambah banyak dari hari biasanya.
 
Makam Sunan Ampel yang memiliki nama asli Raden Muhammad Ali Rahmatullah, berada tepat disebelah Barat Masjid Ampel. Beliau adalah seseorang yang terkenal memiliki figur yang bijak, alim, berwibawa dan juga banyak memperoleh banyak simpati dari masyarakat. Para pengunjung harus melewati sembilan gapura terlebih dahulu agar bisa menuju ke area makam Sunan Ampel, kesembilan gapura ini sama seperti arah mata angin yang berjumlah sembilan, hal ini juga berarti melambangkan sembilan wali atau yang biasa masyarakat kenal dengan sebutan wali songo.

Di daerah sekitar area pemakaman masjid Sunan Ampel juga terdapat makam para santri dari Sunan Ampel, diantara makam – makam santri Sunan Ampel, salah satu yang paling terkenal adalah makam mbah Soleh dan makam mbah Bolong. Mbah Soleh merupakan santri Sunan Ampel yang tugasnya adalah menjaga kebersihan dari pesantren itu sendiri. Sedangkan mbah Bolong atau yang memiliki nama asli Sonhaji ini dikenal ahli sebagai penentu arah mata angin.Keahlian ini berguna untuk menentukan arah doa atau kiblat yang tepat. Mbah Soleh sendiri memiliki makam sebanyak 9 makam, konon ceritanya mbah Soleh ini meninggal hingga 9 kali maka dari itu, makam milik mbah Soleh berjumlah 9.

Adanya simbol dari rukun islam ini menjadi keunikan tersendiri yang dimiliki makam Sunan Ampel. Simbol rukun islam itu sendiri berupa lima gapura yang ada di sekeliling masjid Sunan Ampel. Ada lima gapura yaitu gapura munggah, gapura poso, gapura ngamal, gapura madep, dan juga gapura paneksen. Selain kelima gapura itu, masjid Sunan Ampel didirikan dengan menggunakan 16 tiang untuk penyangga dan semuanya terbuat dari keyu jati dengan ketinggian 17 meter tanpa disambung dan juga memilliki diameter sebesar 60 cm. Tiang – tiang penyanggah tersebut masih tetap kokoh hingga sekarang bahkan usianya yang mencapai 600 tahun. Sampai pada saat sekarang ini, keunikan dari kedua arsitektur itu masih dipertahankan keasliannya.

Keunikan lainnya yang dimiliki masjid Sunan Ampel adalah terdapatnya menara dengan ketinggian 50 meter, dahulu menara ini digunakan sebagai tempat adzan. Sebelah menara terdapat pendopo jawa yang memiliki lambang matahari yang merupakan lambang kejayaan pada jaman kerajaan Majapahit. Sekitar makam sunan ampel terdapat sebuah sumur bersejarah, namun sumur ini sudah ditutup dengan alasan untuk menghindari dari ulah tangan-tangan jahil. Konon air dari sumur itu dipercaya memiliki kelebihan seperti air sumur zamzam di kota Mekkah.

MAKAM SUNAN KUDUS

menara masjid sunan kudus
Sunan Kudus merupakan salah satu penyebar Agama Islam di Tanah Jawa dan termasuk salah satu dari Walisongo yang sudah terkenal di Pulau Jawa. Nama Sunan Kudus diambil dari nama daerah tempat dimana beliau menyebarkan Agama Islam, yaitu Kudus, yang sekarang menjadi nama sebuah Kabupaten di jawa Tengah. Kabupaten Kudus berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Grobogan, Pati, Jepara dan Demak. Masjid Menara Kudus merupakan nama yang sering diucapkan oleh warga masyarakat Kudus, sedangkan nama lainnya adalah Masjid Al Aqsha dan Masjid Manar. Didalam Kompleks Masjid Menara Kudus terdapat 3 bangunan utama yang menarik perhatian masyarakat yaitu masjid itu sendiri, Menara Kudus, serta Makam Sunan Kudus yang sering dikunjungi Peziarah dari berbagai daerah.

Masjid Menara Kudus terletak di Desa Kauman Kecamatan Kota Kabupaten Kudus Jawa Tengah. Dari Alun Alun Kota Kudus, berjarak sekitar 3 km ke arah Barat (Arah Kab Jepara). Berdirinya Masjid Menara Kudus sebagai Hari Jadi Kabupaten Kudus. Masjid Menara Kudus tidak lepas dari peran Sunan Kudus sebagai pendiri dan pemrakarsa. Sebagaimana para walisongo yang lainnya, Sunan Kudus memiliki cara yang amat bijaksana dalam dakwahnya. Di antaranya, dia mampu melakukan adaptasi dan pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat yang telah memiliki budaya mapan dengan mayoritas beragama Hindu dan Buddha. Pencampuran budaya Hindu dan Budha dalam dakwah yang dilakukan Sunan Kudus, salah satunya dapat kita lihat pada masjid Menara Kudus ini. Masjid ini didirikan pada tahun 956 H atau 1549 M. Hal ini dapat diketahui dari inskripsi (prasasti) pada batu yang lebarnya 30 cm dan panjang 46 cm yang terletak pada mihrab masjid yang ditulis dalam bahasa Arab.

Sebenarnya, banyak orang salah paham dengan Menara Kudus. Masyarakat berpikir bahwa menara kudus dibangun bersama dengan Masjid Menara Kudus, padahal tidak. Menara Kudus sudah ada dari zaman Hindu-Buddha, dan umurnya jauh lebih tua dari Masjid Menara Kudus. Kini, kejayaan dan kemakmuran Kota Kudus karena perdagangan, terulang lagi karena Industri, dan posisi Kudus yang strategis sebagai lalu lintas perdagangan Jawa.Terletak di jalur Pantura, atau AH2 (Asian Highway 2) membuat Kota Kudus ramai, dan maju.
areal maqom sunan kudus
Pada bagian belakang mesjid, terdapat makam Sunan Kudus, salah seorang Wali Songo yang menyebarkan Agama Islam di Jawa. Pada area yang sama, juga terdapat makam murid-murid beliau serta para pangeran serta kerabat beliau lainnya.
maqom sunan kudus
Salah satu Objek Tempat Wisata yang menarik disini adalah Menara Kudus yang memiliki bentuk arsitektur yang sangat unik. Namun dibalik keindahannya, Masjid Menara kudus menyimpan misteri yang cukup menarik. Menurut penuturan warga setempat, ada semacam mitos yang berkembang disini, yaitu apabila ada pejabat yang tidak jujur yang melewati lorong gapura Masjid Menara Kudus, maka pejabat tersebut dapat kehilangan jabatannya, apalagi pejabat tersebut masih mengenakan pakaian dinas. Cerita ini berawal dari kesaktian Sunan Kudus dan ketidaksukaannya pada pejabat kerajaan yang tidak jujur, sehingga waktu itu pejabat yang tidak jujur dapat disingkirkan dan rakyat dapat hidup dengan makmur. Namun kepercayaan ini terus dipercayai sampai sekarang, Sehingga apabila ada seorang pejabat yang kebetulan ingin sholat di Masjid Menara Kudus, maka biasanya beliau ganti pakaian dulu dan untuk masuknya tidak lewat depan namun lewat belakang Masjid.

MAKAM PANGERAN JAYAKARTA

Sebagian besar warga Jakarta mungkin tak banyak yang pernah mendengar keberadaan makam keramat di kawasan Jatinegara Kaum, Klender, Jakarta Timur. Makam itu adalah makam Pangeran Jayakarta. Padahal, makam ini tak pernah sepi dari peziarah. Bahkan di hari kerja, para pengunjung menghabiskan waktu untuk bertahlil di depan makam keramat itu. Pengunjungnya pun dari berbagai macam kalangan.
makam keramat pangeran jayakarta
Pangeran Jayakarta adalah seorang penguasa kota pelabuhan Jayakarta pada 1602-1619, sebagai wakil dari Kesultanan Banten. Asal-usul Pangeran Jayakarta masih samar. Dalam satu sumber, Pangeran Jayakarta adalah nama lain dari Pangeran Achmad Jakerta, putra Pangeran Sungerasa Jayawikarta dari Kesultanan Banten. Namun ada juga yang menganggap Pangeran Jayakarta adalah Pangeran Jayawikarta.

Tidak sulit mencari lokasi makam ini. Di depan pintu masuk lokasi yang diklaim sebagai makam asli Pangeran Jayakarta itu, peziarah akan disambut dua gapura layaknya kerajaan masa lalu. Melepas alas kaki jadi kewajiban tiap pengunjung yang datang. Melangkah melalui gapura, ada dua tempat yang bisa dituju, yakni makam Pangeran Jayakarta dan Masjid Jami Assalafiiyah. Di lokasi makam, ada empat makam lain yang mendampingi kubur Pangeran Jayakarta.
Masjid Jami Assalafiiyah
"Itu ada Pangeran Lahut anak dari Pangeran Jayakarta. Kemudian Pangeran Soeria dan Pangeran Sageri itu keponakannya. Satu lagi Ratu Rupiah, istri dari Pangeran Sageri," ujar Kepala Pengurus Masjid Jami Assalafiiyah, Haji Suhendar.

Suhendar menuturkan, setiap hari ada saja warga yang berziarah mendoakan Pangeran Jayakarta. "Paling ramai itu malam Jumat Kliwon," tutur pria berkaca mata itu.

Tak hanya Pangeran Jayakarta dan keempat keluarga dekatnya yang disemayamkan di sana. Di lokasi seluas 3.000 m2 itu, sederetan makam juga tampak mengelilingi. Itu adalah tempat peristirahatan terakhir para keluarga dan keturunan dari Pangeran Jayakarta.
areal makam pangeran jayakarta
Di depan makam yang dibangun layaknya pendopo itu, ada sebuah batu besar memunggungi 2 buah tombak dan sebuah perisai bertuliskan Jayakarta. Prasasti itu dibuat 2003 dan merupakan persembahan dari mantan Panglima TNI Djoko Santoso saat menjabat sebagai Pangdam Jaya.
"Pangdam Djoko sering berziarah ke sini. Itu dari beliau," lanjut dia.

Di samping makam keramat juga berdiri pohon besar nan kokoh yang ditaksir berusia ratusan tahun. Suhendar mengatakan, pohon itu tidak pernah menjatuhkan ranting besarnya ke bangunan sekitarnya, baik makam maupun masjid.

"Itu Pohon Kiara. Dari saya kecil sudah ada itu pohon. Umurnya bisa 300 tahun lebih, 500 tahun juga mungkin lebih. Tapi itu pohon nggak pernah menimpa bangunan pas lagi menggugurkan ranting. Besar itu rantingnya. Saya juga aneh," tutur dia.
pohon kiara di makam pangeran jayakarta
Suhendar mengatakan, makam pangeran yang disebut juga Achmad Djakerta itu menjadi favorit para pejabat berziarah.Sederet foto tokoh yang mendatangi makam tersebut turut diabadikan pengelola makam. Terlihat foto Presiden Jokowi, kemudian Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat.
Tak hanya mereka, banyak pula pejabat lain yang mendatangi makam, namun tak mau gambarnya diabadikan di bangunan kompleks makam.

"Banyak pejabat yang ke sini," kata dia.
"Mencari berkah atau pun jabatan, ya semua itu ikhtiar. Yang penting itu harus paham yang memberi itu Allah dan minta juga ke Allah," kata Suhendar.

Bagi para pengamal awmu mengunjungi makam pangeran jayakarta mesti dikunjungi bila ingin membooster keilmuannya sebatin.

MAKAM KERAMAT MANGGA DUA JAKARTA

Masjid-Nurul-Abror-tempoe-dulu
Di kawasan Mangga Dua, Jakarta Pusat, yang selama ini dikenal sebagai pusat perbelanjaan ternyata juga terdapat sebuah masjid kuno bernama Nurul Abror. Berdiri sejak 1841, masjid itu masih menyisakan mimbar dan empat pilar sebagai bagian aslinya. Salah satu tempat yang tidak boleh dilupakan dan wajib di kunjungi para pengamal AWMU adalah berziarah ke maqom Sayyid Abu Bakar bin Sayyid Aluwi Bahsan Jamalulail yang terletak di daerah mangga dua jakarta utara, dimana posisi makam tersebut berada di dalam areal Masjid Nurul Abror Jln. Mangga Dua Dalam, Jakarta Pusat  samping Hotel Le Greundeur.

Adapun kolam kecil sedalam 15 meter yang semula digunakan untuk berwudhu, 20 tahun silam telah ditutup. Pihak pengurus masjid memutuskan sepakat menutupnya karena jamaah mulai melakukan ritual kepercayaan yang mengarah pada kemusyrikan. Menurut cerita yang berkembang, nama Jalan Mangga Dua berasal dari dua buah pohon mangga besar yang terdapat di depan masjid. Karena itu pula, masjid itu selamat dari ancaman penggusuran dan kini dijadikan cagar budaya.

Sejak berdiri, Masjid Nurul Abrar baru satu kali direnovasi, yakni pada 1986. Sayangnya kondisi masjid kuno ini tidak terawat dengan baik, di antaranya adalah tiang penyangga masjid yang mulai rusak. Penetapan sebagai bangunan cagar budaya dan harus dilestarikan tampaknya tak berpengaruh besar buat masjid ini.
masjid nurul abror mangga dua
Masjid Nurul Abror merupakan salah satu masjid khusus di Jakarta yang dibangun di abad ke-19, saat pemerintah kolonial tidak lagi mengganggu. Awalnya lokasi masjid berada di tengah kuburan yang luas dan sudah hancur. Bangunan masjid lama memperlihatkan unsur-unsur struktur Jawa serta Belanda. Menurut Ph. van Ronkel dalam tulisannya di tahun 1916, di dalam masjid terdapat sebuah batu yang dapat menyebabkan orang menjadi sakit, jika duduk di atasnya. Kampung Mangga pada abad ke18 banyak dihuni oleh orang Jawa terutama di sekitar masjid. Didirikan kembali pada tahun 1986 dengan menggunakan sisa reruntuhan sebuah mesjid lama di tempat itu juga, di Jl. Manggadua Pasar. Terdapat makam seorang sayid, yakni Sayid Abubakar bin Sayid Aluwi (dan seorang bernama Jamalulail) yang dihormati dalam Masjid Mangga dua.

Mangga Dua merupakan Kawasan pecinan di Batavia yang masyhur selain di kawasan Glodok adalah wilayah Mangga Dua. Zaman VOC berada di luar benteng kota Batavia, merupakan wilayah penempatan bagi permukiman pribumi kelompok etnis. Posisinya sebelah tenggara Kasteel Batavia. Wilayah ini menjadi lahan pertanian bagi keperluan Kasteel Batavia. Dalam perkembangan berikutnya, banyak pejabat VOC Belanda dan orang kaya Eropa yang memilih membangun bungalow di daerah ini. Salah satu yang terkenal adalah Pieter Erberveld yang memiliki tanah luas di Mangga Dua.

Di pojok tenggara Kasteel Batavia terdapat tempat hiburan yang disebut dengan Macao Pho, di sini banyak wanita penghibur yang didatangkan dari Macao atau daratan China untuk menghibur para pelaut yang datang bersampan melewati Ciliwung yang menghubungkan Jassenberg (jembatan Jassen) dengan pelabuhan.

“Ada tempat hiburan, ada juga tempat ibadah. Maka, di sini juga terdapat Gereja Sion bagi orang-orang Portugis tawanan VOC Belanda yang dimerdekakan, karena pindah anutan dari Katholik menjadi Protestan atau kaum mardijker,” kata Budayawan Betawi, Ridwan Saidi.

Di Mangga Dua terdapat banyak peninggalan sejarah, yaitu masjid kuno bernama Nurul Abrar yang dibangun awal abad ke-20, di dalamnya terdapat makam keramat. Berdiri sejak 1841, masjid itu masih menyisakan mimbar dan empat pilar sebagai bagian aslinya.
maqom Sayyid Abu Bakar bin Sayyid Aluwi Bahsan Jamalulail keramat mangga dua jakartaAda 12 makam yang menjadi bagian masjid. Namun, satu makam yang paling sering menjadi tujuan utama ziarah warga, yaitu makam Sayyid Abu Bakar bin Sayyid Aluwi Bahsan Jamalulail. Dia adalah keturunan dari Husein bin Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah dari putrinya Fattimah Azzahra.

Di masjid ini terdapat pula beberapa makam ulama yang berasal dari Hadramaut serta terdapat makam Sultan Bone yang oleh sebagian jamaah dan warga dinilai keramat. Termasuk makam pendirinya, habib dari keluarga Jamalullail. Selain itu, terdapat pemakaman orang-orang Tionghoa, termasuk makam Kapitein China pertama di Batavia, Souw Beng Kong. Ia adalah sahabat lama dari Jan Pieterzon Coen.
Ketika JP. Coen menjadi Gubernur Jenderal VOC dan mulai membangun Kasteel Batavia, ia mengajak Souw Beng Kong yang berada di Banten untuk membawa masyarakat China bergabung di Batavia. Kemudian Souw Beng Kong datang ke Batavia dengan membawa 300 orang China. “Maka, ia diberi pangkat Kapitein, sebuah pangkat tertinggi bagi kelompok etnis yang menjadi abdi VOC. Kelompok masyarakat lain juga diberi pangkat demikian Seperti Kapitein Arab, Kapitein Banda, Kapitein Bali, juga pangkat Mayor, dan Liutenant,” ucap Ridwan.

Ada sebuah kisah yang menarik dalam ceramahnya HABIB ABUBAKAR bin ABDURRAHMAN ASSEGAF, Beliau bercerita, setelah 2 tahun AL-WALID HABIB ABDURRAHMAN bin AHMAD ASSEGAF beliau menemukan salah satu kitab karangan ALWALID yang dimana didalamnya ALWALID bercerita sering berziaroh ke Maqom SAYYID ABUBAKAR bin ALWI BAHSAN JAMALULLAIL (Keramat Mangga Dua) dan bertatap muka langsung, di kitab tersebut AL-WALID juga menceritakan bahwa beliau mendapat IJAZAH dari ASSAYID ABUBAKAR bin ALWI BAHSAN JAMALULLAIL (Keramat Mangga Dua) berupa amalan membaca surah Al-Ikhlas sebanyak 200 kali sebelum tidur.

MAKAM KERAMAT HABIB KUNCUNG JAKARTA

gubah maqom habib kuncung kalibata
Wisata ziarah ke maqom para waliyullah di jakarta tidak lengkap rasanya bila anda belum mengunjungi maqom Al-Habib Ahmad bin Alwi bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad (Habib Kuncung) yang terletak di Jln. Rawajati timur II No.70 Rt.03/Rw.08 Kelurahan Rawajati, Kec. Pancoran, Kalibata Jakarta selatan. Para pengamal AWMU pasti akan berziarah dan wiridan ditempat ini.

Waliyullah dengan segala karomah yang dimiliki selama hidup hingga beliau berpulang ke rahmatullah. Kurangg lebih 85 tahun sudah usia maqom  Al-Habib Ahmad bin Alwi bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad (Habib Kuncung), dan tidak pernah sepi dikunjungi para peziarah. Sejak beliau meninggal di tahun 1926 hingga sekarang 2017, pesona dan rahmat Allah kepadanya masih tetap terpancar dan mengundang kedatangan para peziarah dari seluruh wilayah indonesia untuk berziarah berkali-kali ditempat tersebut.
Masjid a-taubah makam habib kuncung
Mengunjungi maqom waliyullah  Al-Habib Ahmad bin Alwi bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad (Habib Kuncung) kita akan disambut dengan sebuah bangunan Masjid agung yang memiliki pesona luar biasa yaitu Masjid At-Taubah. Konon masjid ini berdiri lebih tua daripada maqom  Al-Habib Ahmad bin Alwi bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad (Habib Kuncung).
makam Al-Habib Ahmad bin Alwi bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad

Ketika berkunjung ke maqom  Habib Kuncung, saya menjumpai Bpk. Hasan Al-Haddad, cucu dari Abdullah Al-Haddad. Bpk. Hasan Al-Haddad adalah penjaga makam  Al-Habib Ahmad bin Alwi bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad (Habib Kuncung), dan makam keluarga abdullah bin Ja'far Al-Haddad. Letak makam Al-Habib Abdullah Al-Haddad adalah disebelah kiri makam Al-Habib Ahmad bin Alwi Al-Haddad  (Habib Kuncung).

Melalui Habib Hasan Al-Haddad diketahui bahwa maqom  Al-Habib Ahmad bin Alwi bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad (Habib Kuncung) ini ramai di kunjungi sejak beliau wafat, tidak ada yang memungkiri kewalian dari  Al-Habib Ahmad bin Alwi bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad (Habib Kuncung), dan dari mulut ke mulut karomah dari Habib Kuncung ini kian tersebar, sehingga banyak peziarah yang datang dari berbagai daerah dan datang siang maupun malam silih berganti.
Al-Habib Ahmad bin Alwi bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad Habib Kuncung
Salah satu cerita mengenai karomah Habib Kuncung, Habib Hasan Al-Haddad menceritakan bahwa ketika Habib Kuncung hendak naik kereta, tetapi oleh petugas kereta yang kala itu adalah orang belanda, beliau dilarangan naik. Alasannya adalah karena Habib Kuncung tidak menggunakan pakaian yang bagus selayaknya orangnya yang naik kereta. Ketika hendak diberangkatkan mesin kereta tidak mau di hidupkan, petugas kereta pun mengetahui perihal karomah Habib Kuncung, lalu tanpa melihat pakaian yang ia pakai  Al-Habib Ahmad bin Alwi bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad (Habib Kuncung) dipersilahkan naik kereta dan mesin kereta pun dapat di hidupkan.

Menurut Habib Hasan Al-Haddad, Habib Kuncung selalu hidup berpindah-pindah, tidak ada yang dapat memastikan Habib Kuncung menetap disatu tempat tertentu, beliau hadir dan pergi sesukanya. Habib Kuncung sering muncul di majelis ulama kalangan Habaib di jakarta yang dipusatkan di kediaman Habib Ali Al-Habsyi Kwitang Jakarta. Nama beliau dikenal di masyarakat bogor, karena banyak menghabiskan waktu disana di rumah gurunya yaitu Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas. Sebutan "Kuncung" yang menjadi gelarnya juga berasal dari bogor, masyarakat disana menyebutnya seperti itu karena beliau selalu mengenakan topi kuncung.

 Al-Habib Ahmad bin Alwi bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad (Habib Kuncung) dikenal dengan sikap "Aneh" menurut manusia awam, akan tetapi menurut bahasa kewalian sikap tersebut adalah sikap "MAJEDUB", dimana bertindak sesuai dengan adanya. Oleh sebab itu masyarakat mengenal Habib Kuncung sebagai pribadi yang terhormat dan shaleh. Hal-hal yang dilakukannya merupakan salah satu bentuk ketawadhuan dan sikap rendah hati, beliau tak pernah mau menerima hadiah, baik uang maupun pakaian, beliau hanya ingin dapat tampil seperti biasa dan apa adanya. Sekalipun begitu tak ada orang yang meragukan kapasitas  Al-Habib Ahmad bin Alwi bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad (Habib Kuncung) sebagai waliyullah yang Majdub atau disebut juga dengan ahli Darkah, maksudnya disaat orang dalam kesulitan dan sangat memerlukan bantuan maka beliau muncul dengan tiba-tiba.

Salah satu ritual yang dilakukan peziarah di maqom  Al-Habib Ahmad bin Alwi bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad (Habib Kuncung) adalah meminum air karomah yang disediakan di gentong persis didepan maqom Habib Kuncung, ketika saya minum air tersebut rasa airnya adalah tawar seperti air mineral pada umumnya. Yang menyebabkan air tersebut sangat spesial adalah gentong tempat penyimpanan air karomah tersebut sudah berusia 85 tahun, dan terus menerus di isi doa oleh para peziarah yang mendatangin areal maqom  Al-Habib Ahmad bin Alwi bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad (Habib Kuncung).
gentong air di areal maqom Al-Habib Ahmad bin Alwi bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad Habib Kuncung
Berita mengenai  Al-Habib Ahmad bin Alwi bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad (Habib Kuncung), saya mendengar bahwa beliau adalah murid Al-Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Athas Empang Bogor. Kecintaan Habib Kuncung dengan gurunya bagaikan ayah dan anaknya, sehingga dimanapun ada Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Athas, pasti disitu ada Habib Kuncung.

Dikisahkan ketika Habib Kuncung datang ke Empang Bogor bertemu guru beliau, Habib Abdullah bin Mukhsin al-Athas, sewaktu itu Habib Abdullah bin Mukhsin al-athas sedang sarapan pagi, tiba-tiba Habib yang berkharisma tinggi yang bermaqom mulia inipun tersenyum, lalu ditanya oleh murid beliau, Al-Habib Alwi Al-Haddad, "Ada apa dikau tersenyum wahai guruku yang mulia...?"

"Lihatlah ya Alwi, itu Ahmad sedang menari-nari", Seru beliau.
Habib Alwi pun melihatnya seraya beliaupun tersenyum, 

"Apakah kau lihat ya Alwi..?", Seru Habib Abdullah bin Mukhsin al-athas Empang bogor.
"Apa wahai guruku..?" Tanya Habib Alwi.

Beliau menjawab : "Ya Alwi, itu Habib Ahmad menari-nari dengan bidadari".
 Al-Habib Ahmad bin Alwi bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad (Habib Kuncung)
 Mengenai riwayat  Al-Habib Ahmad bin Alwi bin Hasan bin Abdullah Al-Haddad (Habib Kuncung) adalah waliyullah yang memiliki khoriqul a'dah yaitu diluar kebiasaan manusia pada umumnya dan beliau wafat pada usia 93 tahun, tanggal 29 Sya'ban 1345 H (1926 M), Oleh karena itu Habib Kuncung sekaligus termasuk silsilah keilmuan amaliyah wali makhtum, bagi rekan QumMania yang ingin membooster AWMU bisa berziarah ke maqom tersebut dan mengamalkanya ditempat tersebut.


MAKAM KERAMAT LUAR BATANG PENJARINGAN

Masjid Jami Keramat Luar Batang
Masjid Jami Keramat Luar Batang atau juga populer dengan sebutan Masjid Luar Batang adalah sebuah bangunan ibadah bersejarah yang berada di daerah Penjaringan, Jakarta Utara. Di masjid ini terdapat makam seorang ulama bernama Al-Habib Husein bin Abubakar bin Abdillah Alaydrus atau lebih dikenal dengan 'Habib Husein'. Dia merupakan seorang Arab Hadramaut yang hijrah ke tanah Jawa melalui Pelabuhan Sunda Kelapa pada 1736. Silsilahnya dikatakan tersambung kepada Nabi Muhammad SAW.
Masjid Jami Keramat Luar Batang dibangun Habib Husein pada Abad ke-18. Habib Husein sendiri dikenal sebagai salah seorang tokoh penentang Kolonial Belanda di kawasan Sunda Kelapa. Karena sikapnya tersebut, ia sempat merasakan kehidupan penjara. Habib Husein wafat pada 24 Juni 1756 dalam usia yang relatif masih muda, yaitu kurang dari empat puluh tahun.

Nama masjid ini diberikan sesuai dengan julukan Habib Husein, yaitu Habib Luar Batang. Ia dijuluki demikian karena konon dahulu ketika Habib Husein meninggal dan hendak dikuburkan di sekitar Tanah Abang, tiba-tiba jenazahnya sudah tidak ada di dalam "kurung batang". Hal tersebut berlangsung sampai tiga kali. Akhirnya para jama'ah kala itu bermufakat untuk memakamkan dia di tempatnya sekarang ini. Jadi maksudnya, keluar dari "kurung batang".

Al-Habib Husein bin Abubakar bin Abdillah Alaydrus lahir di Migrab, dekat Hazam, Hadramaut, Datang di Betawi sekitar tahun 1746 M. Berdasarkan cerita, bahwa beliau wafat di Luar Batang, Betawi tanggal 24 Juni 1756 M. bertepatan dengan 17 Ramadhan 1169 Hijriyah dalam usia lebih dari 30 tahun ( dibawah 40 tahun ). Jadi diduga sewaktu tiba di Betawi berumur 20 tahun. Habib Husein bin Abubakar Alaydrus memperoleh ilmu tanpa belajar atau dalam istilah Arabnya “Ilmu Wahbi“ yaitu pemberian dari Allah tanpa belajar dahulu. Silsilah beliau : Habib Husein bin Abubakar bin Abdullah bin Husein bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Husein bin Abdullah bin Abubakar Al-Sakran bin Abdurrahman Assaqqaf bin Muhammad Maula Al-Dawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath.

Al-Habib Husein yang lebih terkenal dengan sebutan Habib Keramat Luar Batang, mempunyai perilaku “ Aulia “ (para wali) yang di mata umum seperti ganjil. Seperti keganjilan yang dilakukan beliau, adalah :
Al-Habib Husein tiba di Luar Batang, daerah Pasar Ikan, Jakarta, yang merupakan benteng pertahanan Belanda di Jakarta. Kapal layar yang ditumpangi Habib Husein terdampat didaerah ini, padahal daerah ini tidak boleh dikunjungi orang, maka Habib Husein dan rombongan diusir dengan digiring keluar dari teluk Jakarta. Tidak beberapa lama kemudian Habib Husein dengan sebuah sekoci terapung-apung dan terdampar kembali di daerah yang dilarang oleh Belanda. Kemudian seorang Betawi membawa Habib Husein dengan menyembunyikannya. Orang Betawi ini pun berguru kepada Habib Husein. Habib Husein membangun Masjid Luar Batang yang masih berdiri hingga sekarang. Orang Betawi ini bernama Haji Abdul Kadir. Makamnya di samping makam Habib Husein yang terletak di samping Masjid Luar Batang.

Al-Habib Husein sering tidak patuh pada Belanda. Sekali Waktu beliau tidak mematuhi larangannya, kemudian ditangkap Belanda dan di penjara di Glodok. Di Tahanan ini Habib Husein kalau siang dia ada di sel, tetapi kalau malam menghilang entah kemana. Sehingga penjaga tahanan (sipir penjara) menjadi takut oleh kejadian ini. Kemudian Habib Husein disuruh pulang, tetapi beliau tidak menghiraukan alias tidak mau pulang, maka Habib Husein dibiarkan saja. Suatu Waktu beliau sendiri yang mau pergi dari penjara. Bagi rekan QumMania yang ingin memgamalkan amaliyah wali makhtum bisa berziarah ke maqom keramat luar batang penjaringan jakarta utara.